Breaking News

Indikator Dalam Mengukur Nilai Perusahaan




Nilai perusahaan dapat diukur dengan suatu rasio yang disebut rasio penilaian. Sutrisno (2009;224), medefinisikan rasio penilaian adalah:Suatu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai pada masyarakat (investor) atau pada para pemegang saham.

Rasio penilaian memberikan informasi seberapa besar masyarakat menghargai perusahaan, sehingga masyarakat tertarik untuk membeli saham dengan harga yang lebih tinggi dibanding nilai bukunya. Menurut Weston dan Copeland (2008:224) rasio penilaian terdiri dari:

Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), Dan Rasio Tobin’s Q. Dari pengukuran nilai perusahaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Price Earning Ratio (PER)
Rasio PER mencerminkan banyak pengaruh yang kadang-kadang saling menghilangkan yang membuat penafsirannya menjadi sulit. Semakin tinggi resiko, semakin tinggi faktor diskonto dan semakin rendah rasio PER. Rasio ini menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

2. Price to Book Value (PBV)
Rasio ini menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Semakin tinggi PBV berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut.

3. Rasio Tobin’s Q
Rasio ini merupakan konsep yang berharga karena menunjukan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai hasil pengembalian dari setiap dolar investasi incremental.

Price to Book Value atau nilai buku perusahaan menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Nilai Buku Perusahaan yang diukur menggunakan Ekuitas Biasa dibagi dengan Jumlah Lembar Saham beredar,Price tobook value juga menunjukan seberapa jauh suatu perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan yang relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Penelitian ini juga meneliti Debt to Equity Ratio yang diukur menggunakan Total Utang (Debt) dibagi dengan Ekuitas (Equity) sebagai penilaian seberapa besar modal perusahaan didanai oleh utang maka penelitian ini menggunakan PBV karena mengukur jumlah modal atau ekuitas yang diinvestasikan.


Price to Book Value (PBV)

Price to Book Value yaitu rasio yang mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang tumbuh. Semakin tinggi PBV berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut.

Menurut Robert Ang (1997), dalam Nasehah (2012) pengertian
price to book value (PBV) adalah: rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja pasar saham terhadap nilai bukunya. Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manjemen dan organisasi sebagai perusahaan yang terus tumbuh. Price tobook value juga menunjukan seberapa jauh suatu perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan yang relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Semakin tinggi rasio price book value dapat diartikan semakin berhasil perusahaan menciptakan nilai bagi pemegang saham. Keberhasilan perusahaan menciptakan nilai tersebut tentunya memberikan harapan kepada pemegang saham berupa keuntungan yanglebih besar pula. (Agus Sartono, 2001 dalam Nasehah, 2012)

Price to book value menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan atau bisa juga digunakan untuk mengukur tingkat kelemahan dari suatu saham. Semakin tinggi rasio ini berarti pasar percaya akan prospek suatu perusahaan, sehingga mengakibatkan harga saham dari perusahaan tersebut meningkat pula. Begitu pula sebaliknya jika price to book value rendah akan berdampak pada rendahnya kepercayaan pasar terhadap prosepek perusahaan yang berakibat pada turunnya permintaan saham dan berimbas pula dengan menurunya harga saham dari perusahaan tersebut. (Darmadji dan Fakhrudin, 2001, dalam Prisca Wijayanti 2013).

Menurut (Dev Group on Researce, 2009) dalam Nasehah (2012)
price to book value mempunyai 2 fungsi utama , yaitu:

1. Melihat apakah sebuah saham saat ini sudah diperdagangkan di harga yang mahal, masih murah, atau masih wajar menurut rata-rata historisnya.
2. Menentukan mahal atau murahnya sebuah saham saat ini berdasarkan perkiraan harga wajar untuk periode 1 tahun mendatang

Berdasarkan fungsi yang pertama sebuah saham akan dianggap sudah terlalu mahal atau tinggi jika price to book value saham tersebut saat ini sudah diatas rata-rata price to book value historisnya. Dengan sebaliknya, sebuah saham akan dianggap masih murah atau wajar jika price to book value saham tersebut saat ini masih berada dibawah atau sama dengan rata rata price to book value historisnya.

Berdasarkan fungsi yang kedua, sebuah saham akan dianggap mahal atau murah berdasarkan perkiraan harga wajar. Perhitungan harga wajar dapat dilakukan dengan dua unsur sebagai berikut:

a. Rata-rata price to book value historis
b. Estimasi nilai buku perusahaan (BV) untuk periode 1 tahun mendatang


Rata-rata
price to book value historis untuk perhitungan harga wajar ditentukan berdasarkan asumsi yang terbagi menjadi 3, yaitu:
a. Asumsi optimis, Artinya jika kita menganggap kondisi ekonomi kedepan jauh lebih baik dari sekarang. Rata-rata price to book value yang digunakan adalah price to book value + standar deviasi
b. Asumsi netral, Artinya jika kita menganggap kondisi ekonomi kedepan sulit diprediksi atau dalam kondisi moderat (biasa-biasa saja). Rata-rata 
price to book value yang digunakan adalah rata-rata price to book value historisnya.
c. Asumsi Pesimis, Artinya jika menganggap kondisi ekonomi kedepan jauh lebih buruk dari sekarang. Rata-rata
price to book value yang digunakan adalah rata-rata price to book value – standar deviasi

Price to Book Value adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja pasar saham terhadap nilai bukunya. Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keungan kepada manajemen dan organisasi sebagai perusahaan yang terus tumbuh. Price to Book Value juga menunjukan seberapa jauh perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan yang relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Semakin tinggi rasio price to book value dapat diartikan semakin berhasil perusahaan menciptakan nilai bagi pemegang saham. Keberhasilan perusahaan menciptakan nilai tersebut tentunya memberikan harapan kepada pemegang saham berupa keuntungan yang lebih besar pula.


---
Ref : Restu Ayu Maretha, 114020201 (2016) PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN DAN DEBT TO EQUITY RATIO TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Dasar dan Kimia yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010 s.d 2014). Skripsi(S1) thesis, Fakultas Ekonomi Unpas Bandung.

No comments