Breaking News

Mengendalikan Fear dan Greed



Bursa saham seringkali tidak rasional. Salah satu penyebabnya adalah banyak investor yang justru menjadi serakah (greed) saat harga saham bergerak naik. Greed tersebut lah yang membuat harga saham bisa naik gila-gilaan (euphoria). Sebaliknya, banyak investor menjadi takut (fear) saat harga saham bergerak turun. Fear tersebut lah yang membuat harga saham bisa turun juga sampai tidak masuk akal (depression).

Yang seringkali dilakukan oleh kebanyakan investor adalah, mereka menjadi greedy saat market bergerak menuju euphoria. Mereka menggunakan fasilitas margin dari sekuritas, bahkan sampai berhutang dan menggadaikan barang-barang karena larut dalam euphoria tersebut. Ketika market euphoria, harga saham menjadi tidak wajar lagi dan jauh melampaui intrinsic value nya. Sebaliknya, kebanyakan investor menjadi fear saat market bergereka menuju arah depression. Mereka menjual saham pada harga berapapun yang bisa dijual, yang membuat harga saham terjun bebas jauh di bawah nilai intrinsiknya.

Berbeda dengan kebanyakan investor tersebut, Value Investor sering disebut sebagai contrarian, mengapa? Karena seringkali ketika kebanyakan investor menjadi greedy saat market euphoria, seorang value investor justru akan merasa takut. Sebaliknya, ketika kebanyakan investor menjadi fear saat market di fase depression, di situlah saat seorang value investor justru akan merasa yakin dan greedy di saat yang tepat. Untuk lebih jelasnya silakan lihat gambar di bawah ini mengenai greed and fear cycle.
Jadi jika Sobat pernah membaca di buku ataupun sumber lainnya, bahwa seorang investor tidak boleh greedy (serakah), sebenarnya itu tidak 100% tepat. Greedy (serakah) sebenarnya merupakan sifat dasar manusia. Ketika kita memiliki uang Rp 10 juta, kita berpikir seandainya kita memiliki uang Rp 100 juta. Ketika kemudian kita memiliki uang Rp 100 juta, apakah kita akan menjadi puas? Tidak. Kita pasti akan berpikir seandainya kita memiliki uang Rp 1 miliar, demikian pula seterusnya.

Di atas kita sudah mengetahui bahwa dalam keadaan normal apalagi ketika semua orang sedang dalam keadaan euphoria, seorang value investor hendaklah jangan menjadi greedy. Namun, ketika semua orang merasa putus asa (bahkan merasa bahwa masuk ke dalam pasar saham merupakan keputusan terbodoh dalam hidupnya), itulah saat di mana seorang Value Investor justru boleh menjadi greedy. Karena di saat fase market sedang putus asa, harga-harga saham menjadi sedemikian murahnya, sehingga tidak lagi mencerminkan fundamental perusahaannya. Dan saat market kembali ke posisi semula, seorang Value Investor akan meraih profit yang sedemikian besar nya. Seperti yang pernah dikatakan oleh Warren Buffett:

“Be Fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful”


Ref :
Ebook Metode Value Investing untuk Pemula, Rivan Kurniawan

No comments